❄️ Ice Lord: Dari Tragedi Dunia Murim ke Petualangan Isekai yang Humanis

Tahun 2026 sudah berjalan satu bulan, dan rasanya halaman ini masih begitu tenang. Sejujurnya, ada beberapa daftar komik yang sudah masuk antrean untuk kami ulas, namun entah kenapa ide-ide tersebut sempat menguap begitu saja. Sebagai bentuk "permintaan maaf" atas absennya kami, mari kita bahas satu judul manhwa asal Korea yang belakangan ini menyita perhatian: Ice Lord.

Sudah ada yang mengikuti ceritanya? Kami sendiri baru saja menamatkan maraton hingga chapter 58—batas terakhir saat tulisan ini dibuat. Awalnya, kami sempat ragu dan mengira ini hanyalah tipikal cerita Murim standar yang dipenuhi adegan baku hantam tanpa henti. Apakah ini akan menjadi cerita regresi di mana karakter utama (MC) mati lalu bangkit lagi? Ternyata, kami salah besar.

Kekuatan yang Terlalu "Overpowered" Sejak Awal

Membuka halaman pertama, pembaca langsung disuguhi suasana tegang. Pertarungan pecah antara kelompok Murim melawan kelompok es yang dikenal sebagai Northern Sea. Fokus cerita jatuh pada seorang perempuan muda—anak dari pemimpin Murim—yang rela menyerah demi menghentikan pertumpahan darah.

Namun, niat tulus tersebut justru berakhir tragis. Sang ayah justru menganggapnya sebagai aib dan membunuhnya tanpa ampun. Di sinilah konflik inti bermula. Ternyata, perempuan tersebut memiliki kekasih yang merupakan sang karakter utama. Bisa ditebak, kisah cinta mereka tidak direstui.

Didorong rasa kehilangan dan dendam yang mendalam, sang MC mengamuk. Tidak ada satu pun pendekar Murim yang mampu menahannya, termasuk sang pemimpin Murim sekalipun. Pada titik ini, kami sempat berpikir: "Kalau musuh terkuat saja mati di awal, mau dibawa ke mana lagi ceritanya?"

Perjalanan Lintas Dunia demi Sang Kekasih

Rasa penyesalan yang mendalam membawa MC pada sebuah petunjuk ajaib. Bunga yang awalnya hanya simbol cinta mereka, tiba-tiba menjadi kunci untuk menemukan kembali sang kekasih. Menariknya, ini bukan sekadar soal menghidupkan orang mati. Bunga tersebut memberikan petunjuk tentang keberadaan pasangannya di dimensi lain.

Petualangan pun dimulai. Saat sedang mengarungi lautan untuk mencari kebenaran tentang reinkarnasi pasangannya, bencana besar datang. Sebuah ombak raksasa menyeret kapal yang ditumpangi MC, dan secara ajaib, ia terlempar ke dunia baru.

Dunia ini sangat berbeda dengan tanah Murim. Ini adalah perpaduan antara elemen fantasi klasik dengan berbagai ras, monster, dan sistem kerajaan. Bayangkan seorang pendekar es terkuat tiba-tiba berada di dunia yang memiliki sistem sihir dan tatanan sosial yang berbeda.

Sentuhan Humanis yang Menyegarkan

Hal yang paling kami apresiasi dari Ice Lord adalah transisi mood ceritanya. Dari yang awalnya penuh luka, amarah, dan kekerasan, perlahan berubah menjadi lebih humanis. Ada banyak drama yang menyentuh hati, namun tetap dibumbui komedi yang segar.

Beruntungnya, segala kekuatan hebat MC dari dunia sebelumnya tetap terbawa. Meski awalnya terkendala bahasa (yang kemudian teratasi berkat cincin sihir penerjemah), MC tetap menjadi sosok yang tak terkalahkan saat menghadapi monster maupun penjahat di dunia baru tersebut.

Namun, misi utamanya tetap satu: Mengejar cinta.

Wanita yang ia cari—yang ditandai oleh kalung bunga ajaib—akhirnya ditemukan. Namun, ia kini adalah seorang putri kerajaan. Sebagai rakyat jelata di dunia baru, MC sadar ia butuh posisi yang setara untuk bisa melamarnya secara terhormat.

Dari sinilah petualangan yang sesungguhnya dimulai. MC mulai membangun reputasi, mengumpulkan orang-orang "bermasalah" untuk menjadi pengikut setianya, dan membangun wilayah kekuasaannya sendiri. Di balik semua aksi dan pembangunan wilayah tersebut, esensi Ice Lord sebenarnya sederhana: ini adalah kisah tentang seorang pria yang sangat "bucin" pada pasangannya.

Perpaduan antara kesalahpahaman yang kocak, kekaguman orang-orang sekitar terhadap kekuatan MC, dan ketulusan motifnya membuat manhwa ini sangat layak untuk diikuti.

...

Bagaimana menurut kalian, apakah tipe MC yang langsung kuat di awal seperti ini masih menarik untuk dibaca?

Artikel terkait :

Komentar